Rasanya Bekerja (Di minggu pertama): 5L

Jika dulu, saat masih mencari-cari kerja ataupun saat menonton orang yang tengah bekerja di tivi, rasanya berbeda 180 derajat dengan yang terjadi sesungguhnya. Mari kita analisis satu per satu.

(i). Lelah: Bangun dengan wajah yang segar. Benar kan? Jika melihat para bintang film berakting, mereka akan bangun dengan wajah penuh suka cita dan tampak siap menghadapi hari. Realitanya, tidak sesegar itu. Apalagi kalau kau telah terbiasa tidur larut malam, bangun siang bolong.  Walaupun hampir sama seperti kuliah pagi, tetapi tetap saja beda. Jika kuliah, tidak ada beban untuk bangun pagi, namun saat bekerja, kau dibayar untuk bangun pagi. Tiba-tiba kau harus bangun jam 4 pagi dan memotong waktu tidur “emas”mu, saat-saat tidurmu sangat nyenyak untuk bergegas bangun dan mempersiapkan diri ke kantor.

(ii). Lemah: Punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Wrong answer. Sedikit kemungkinannya akan sama seperti bayanganmu di tivi: sempat menyeduh kopi, menikmati sarapan sehat, ditemani koran pagi. Oh itu tidak terjadi. Setidak-tidaknya dalam kasusku. Setelah mengurangi waktu tidur, hal yang terbaik yang bisa kau lakukan berikutnya adalah  mandi secepatnya, membuat sarapan yang tercepat yang ada di kulkas, dan meminum kopimu dalam perjalanan ke kantor.

(iii). Lunglai: On Time. Mungkin hari-hari pertama ‘on time’ akan menjadi prioritasmu, tapi hari-hari berikutnya yang menjadi prioritasmu adalah mengejar bus atau kereta untuk segera tiba di kantor sebelum terlambat. Kartu absen tidak boleh berwarna merah, itu adalah caramu untuk memberi kesan yang baik di depan bos.

(iv). Lesu: Semangat sepanjang waktu bekerja. Mungkin hanya beberapa jam saja kau bisa fokus bekerja, karena selain itu, yang kau rasakan adalah ngantuk dan halusinasi membayangkan kau masih ditempat tidurmu. Badanmu masih menolak bekerja secara penuh karena masih kaget. Berharap masih bermimpi indah. Wake up! This is not a dream… this is real.

(v). Letih: Ketika jam kantor selesai, kau masih semangat melakukan hal yang lain. Sekali lagi, berhentilah menganggap film-film itu nyata. Saat jam kantor berbunyi, energimu yang tersisa akan habis untuk mengejar kendaraan pulang yang penuh sesak dan macet. Tiba dirumah, hal terbaik yang kau lakukan adalah segera makan dan tertidur. Berharap untuk waktu yang lama.

Maksud ceritaku adalah bukan untuk menjelek-jelekkan pekerjaan jam 9 sampai jam 5 ataupun karena  waktu bekerjaku (tolong dicatat: aku sangat (amat) menyukai pekerjaanku, teman kerjaku, dan suasana kerja yang bersahabat), tetapi semua lebih pada proses adaptasi yang dialami tubuhku saat bekerja. Kelelahan, ngantuk di kantor, dan kehabisan energi adalah gejala-gejala alami karena tubuh harus beradaptasi dengan ritme kerja yang baru pula. Harus mengatur ulang jam tidur tubuh, membuat taktik cerdas untuk sarapan yang sehat juga seimbang, dan menunjukkan prestasi di tempat kerja. Semua proses (re)adaptasi ini memang melelahkan namun sekaligus sangat menantang. Terdapat kepuasan tersendiri jika bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Pelajarannya, berikan kesempatan bagi tubuh kita untuk lebih mudah beradaptasi dengan ritme tidur yang baru dengan (harus mau) mengubah jam tidur kita, termasuk di dalamnya: melewatkan film/serial tivi favorit kita  dan beristirahat yang cukup di akhir pekan. Kesehatan lebih penting dari pada kesenangan. Last but not least, a lot of multivitamin supplements. Terbukti ampuh membantu tubuh lebih cepat beradaptasi dengan jam kerja yang lebih pagi. Semakin lama, semakin lebih mudah bagi kita untuk mengadopsi ritme kerja yang baru.

Have a nice day @ work!!

Advertisements