Mirror Mirror on the Wall

Entah diakui atau tidak, kita semua senang bercermin. Baik cowok atau cewek, selalu memeriksa dan membandingkan diri dengan cermin. Apakah obat dari dokter kulitku bekerja dengan baik, sudah rapihkan baju kerjaku pagi ini, atau apakah sepotong blackforest semalam membuatku bertambah gendut 2 kg?

Selalu saja ada bagian dari tubuh kita yang salah, keliru, kurang sempurna, dan ingin diperbaiki (Kecuali kau Gissele Bunchen atau Brad Pitt). Perut buncit salah satunya, atau bokong yang terlalu besar, atau selulit, atau…….. (silahkan isi sendiri). Sehingga saat bercermin, kita tidak akan mengatur posisi cermin berhenti hanya sampai di leher. Kita berpura-pura bahwa tubuh bagian bawah baik-baik saja, atau parahnya, tidak ada.

Cermin selalu menampilkan apa adanya dan kita selalu menilai segala sesuatu sesuai keinginan kita. Cermin hanyalah benda mati, tetapi sering kali menjadi pelampiasan akibat tanggung jawab manusia itu sendiri. Saat kita senang dengan apa yang kita lihat, kita akan memuji diri kita sendiri, setidaknya tersenyum bangga; namun saat ada yang salah, kita akan menggerutu dan mengeluh. Kalau cermin bisa berkata, tebakanku dia akan berkata, “Who Cares?”. Untunglah cermin sampai hari ini tetap menjadi benda tak bernyawa.

Tidak heran bisnis kecantikan (& ketampanan, hahaahahah) semakin berekspansi. Dari ujung rambut sampai jari kaki, selalu ada produk terbaru yang mampu membuat setiap orang percaya bisa tampil lebih keren dan  rela mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Belum lagi ditambah obsesi untuk tampil sempurna layaknya selebriti pujaan (aku sendiri ragu jika mereka benar-benar sempurna tanpa Photoshop/Airbrush). Like they say: “beauty is pain…no pain no gain”.

Tapi mungkin suatu hari nanti bakal tercipta cermin yang serupa cermin Ibu tiri Snow White. Bedanya, cermin ini selalu mengatakan betapa cantik/tampan/sempurnanya hidup kita. Dengan demikian, satu lagi masalah terselesaikan dan dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Who knows?

Advertisements